Hani 1 - 6

“Ahhh….mas,,,ennaaghkk”, Mas Hendro terus menggenjot tubuhku dengan irama yang teratur, tangannya meremas lembut bongkahan pantatku yang sedikit terangkat menikmati genjotannya.

“kamu luar biasa sayangku…enghhhmm…akuhh…mhmmpasti akan rindu kamuuuuh……”, mas hendro terus meracau. Tiba-tiba kurasakan gerakannya semakin cepat.

“sayaaang,,,aku sampai…….”

“aku juga massss…enghhhh…..”, tanpa bisa dibendung lagi, aku dan mas hendropun orgasme secara bersamaan. Nikmat….

Namaku Hany, 40 tahun. Dan Hendro (45) adalah suamiku. Ia bekerja sebagai seorang dosen di salahsatu perguruan tinggi negeri. Pernikahan kami sudah berlangsung selama 20 tahun. Dan selama itu pula hubungan seks kami tak pernah bermasalah, dan selalu bergelora. Kami dianugrahi tiga orang putri yang cantik. Anak pertama kami Dian (19) sekarang sedang berkuliah di perguruan tinggi negeri di tempat suamiku Hendro mengajar. Anak kedua kami Dita (16) sekolah di salahsatu SMA favorit di kota ini dan terakhir Yona (14) yang masih duduk di kelas dua SMP.

Sedikit gambaran tentang diriku. Aku adalah seorang ibu rumah tangga, berjilbab, dengan tinggi 165 cm, dan ukuran dada 38D, cukup besar dan menggiurkan memang. Bahkan jilbab lebar ku tidak sanggup menutupi tonjolan indah itu. Aku berkulit putih. Meski umurku sudah 40 tahun, akan tetapi tubuhku masih segar dan menggiurkan, bahkan untuk anak remaja seumuran anak-anakku sekalipun. Hal ini kusadari karena tiap kali teman anakku berkunjung ke rumah, mata nakal mereka tak pernah jauh dari dadaku.

Keluarga kami adalah keluarga yang harmonis dan sering menjadi panutan bagi tetangga-tetangga lain. Aku dan suamiku bahkan hampir tidak pernah bertengkar. Anak-anak kamipun anak-anak yang berprestasi dan penurut pada orangtua. Keluarga kami terlihat seperti keluarga idaman. Setidaknya sampai sebelum Ardo (20) datang di kehidupan kami.

Ardo? Ya, dia adalah pacar Dian, yang akhirnya merusak rumah tanggaku. Dan aku akan menceritakan kejadian yang menimpa keluargaku. Agar bisa menjadi pelajaran hidup buat kalian semua.

=====================================================================

Hari ini adalah hari keberangkatan Hendro. Hendro mendapat beasiswa dari kampusnya untuk melnjutkan S3 di Australia. Setelah melalui diskusi panjang dengan aku dan anak-anak, akhirnya kami memutuskan untuk merelakan Hendro mengambil beasiswa itu. Sebenarnya yang aku khawatirkan adalah dengan perginya Hendro, otomatis tidak ada laki-laki di rumah. Ya, kami hanya tinggal berlima, tanpa pembantu, sehingga perginya Hendro cukup membuat ku khawatir. Untungnya Hendro meyakinkanku dengan mengatakan bahwa jika kita berlindung pada Tuhan, maka Tuhan yang akan menjaga kita.

Saat ini Aku sedang sibuk membantu Hendro suamiku untuk mengepack barang-barang yang akan ia bawa. Sedangkan Hendro sedang mandi. Sedangkan Dian, Dita, dan Yona sedang menyiapkan sarapan untuk kami berlima. Ya, mereka sudah sepakat untuk membuatkan masakan special untuk papanya sebelum papanya itu berangkat ke Australia.

Pukul 07.30, kami semua sudah berada di meja makan, semua makanan sudah siap dan barang-barang yang akan dibawapun sudah masuk koper semua.

“Papa harap, kalian bisa saling menjaga selama Papa nggak di rumah”, Hendro membuka pembicaraan sambil menyeruput cappuccino nya.

“sering-sering telpon kami yaaa Pa”, Yona si bungsu tiba-tiba berdiri dan langsung memeluk papanya itu.

Reflek, Dian dan Ditapun ikut berdiri dan ikut berpelukan. Pelukan itu terjadi cukup lama, sampai akhirnya mereka melepaskan pelukannya dan Hendro pun berdiri memelukku.

“aku titip anak-anak ya sayang”, Hendro membisikkan itu sambil mencium keningku.

Kemudian Hendro menoleh kearah anak-anak dan berkata “Papa titip mama ke kalian ya…kalian harus bisa saling menjaga selama papa pergi”,

“Iyaa pa, papa juga jangan nakal di Australia, walaupun banyak bule cantik, inget di rumah mama selalu nunggu”, akupun menjawab sambil mengerlingkan mataku kearah Hendro dan anak-anak.

“Yuk pa, berangkat..ntar telat lho”, ucapku.
Akhirnya kamipun berangkat menuju Bandara bersama-sama.


******

Hari ini tepat tiga bulan Hendro berada di Australia. Artinya sudah tiga bulan juga aku tidak merasakan nikmatnya bersetubuh. Hari-hari yang biasanya selalu diisi dengan seks menggelora sekarang menjadi kering tanpa rasa. Hari ini, bangun tidur aku merasa sangat bergairah sekali. Ku lirik jam dinding di dekat lemari. Baru menunjukkan pukul 08.00. Biasanya jika sedang bernafsu seperti ini aku akan menghabiskan waktu ku dengan berkunjung ke rumah saudara atau berkumpul dengan ibu-ibu pengajian untuk memadamkan gelora nafsuku. Tapi entah kenapa pagi ini rasanya beda. Sepertinya nafsu yang sudah tiga bulan ini tak tersalurkan berada diubun-ubun. Aku bangun dan melangkah ke kamar mandi yang ada di kamarku untuk sekedar mencuci muka. Kemudian aku keluar kamar, di meja makan ku lihat Dian sedang senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan di hp nya.

“kenapa sayang, kok senyum-senyum gitu?”, aku menghampiri Dian.

“sarapan dulu ma, aku dah bikin nasi goreng tadi”, bukannya menjawab Dian malah menyuruhku sarapan.

“mama nanya kok gak dijawab sih? Lagian, kamu kok masih di rumah, gak ada kuliah?”, aku mulai menyendok nasi goreng buatan Dian, dan duduk disampingnya.

“ooh, ini ma bbm dr teman aku lucu”, ucapnya.

“iya aku kuliah kok, ini udah mau berangkat”, lanjutnya lagi.

“temen apa temeeen?”, ucapkuu sambil mengusap kepala Dian.

“iiih, mama apaaan sih…..temen maaaa, tp gak tau juga sih, hahaha…”, Dian tertawa keras.

“eh ma, aku boleh pacaran gak sih?”, tiba-tiba Dian menatapku serius.

“hmmmm, boleh aja sih, kamu kan udah dewasa, yang penting kamu bisa jaga diri utk tidak melakukan hal-hal yang gak pantas, apalagi sampai memberikan mahkota mu”.

“ooh gitu ya ma, sebenarnya aku udah punya pacar sih, baru seminggu jadian, gpp kan ma?”, Dian tersenyum lebar dan memelukku.

“Iya gpp sayang, kamu jaga diri ya, jangan tergoda yang aneh-aneh. Kapan kamu mau kenalin mama sama pacarmu itu?”, aku mengusap-usap kepala Dian.

“iya ma, nanti aku bawa ke rumah, oia namanya Ardo, baik kok ma orangnya”, Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“ma aku berangkat kuliah dulu yaaa”, Dian melepas pelukanku dan menciumku.

“hati-hati sayang”, aku juga menciumnya.

Sekarang tinggal aku sendiri di rumah, nafsuku kembali menggebu. Ah, mungkin aku harus mandi untuk meredam nafsu ini. Akupun beranjak menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku.

Sesampainya dikamar, aku membuka perlahan pakaianku dan berdiri di depan cermin. Tubuh ini, tubuh yang masih menggairahkan ini sudah punya tiga anak. Aku mulai membuka bh yang kupakai. Namun, kemudian aku malah mengusap-usap payudaraku sendiri. Perlahan usapan itu berubah menjadi remasan-remasan lembut. Ahh, aku sepertinya benar-benar sudah nggak tahan. Aku pun pindah keatas kasur. Tanganku kembali meremas payudaraku sendiri. Nafasku makin tak teratur. Satu tanganku mulai merambah ke celana dalam dan mulai mengelus-elus vaginaku dari luar celana dalam. Cairan-cairan cintaku mulai membanjir. Darahku berdesir merasakan kenikmatan ini.

Akupun akhirnya membuka celana dalamku, satu-satunya kain penutup yang tersisa ditubuhku itu sudah basah oleh cairan cintaku. Jariku mulai menusuk-nusuk vaginaku dan memberikan sensasi tersendiri. Perlahan-lahan tusukan jariku menjadi semakin cepat.

“ooohhh,,mffmmmffff……”, aku mulai merintih-rintih gak jelas.

Dan akhirrnya. Aahhhhhh……….denyutan-denyutan dahsyat melanda liang vaginaku. Aku mengalami orgasme!

“aah, Hendro sayang,,aku udah ngak tahaaan, pulang dong sayaaang”, aku menggumam dalam hati. Mataku terpejam sejenak menikmati sisa-sisa orgasme ku.

=====================================================================

Aku terbangun ketika ku dengar diluar ada suara-suara seperti orang sedang berbicara. Ku lirik jam, menunjukkan pukul 14.00. Itu artinya sudah dua setengah jam aku tertidur setelah masturbasi tadi. Sepertinya itu suara Yona, mungkin dia dengan teman-temannya sedang belajar kelompok.

Akupun beranjak dari kasur dan menyambar daster panjang yg lebih mirip kimono itu untuk ku gunakan kembali. Sejenak ku perhatikan tubuhku didepan cermin. Sudah tertutup semua. Tidak akan ada yang sadar bahwa aku tidak memakai apa-apa lagi dibalik daster ku ini. Sebelum aku keluar kamar tak lupa ku sambar jilbab hijau yg ku gantung di dekat cermin. Sempurna, semua sudah terlihat normal. Akupun berjalan kearah pintu, dan cleck! Oh God! ternyata aku lupa mengunci pintu kamarku. Untung saja sewaktu aku tertidur tadi tidak ada yang masuk. Karena kalau ada yang masuk dan melihatku terkapar telanjang, habis sudah aku.

Akupun keluar dari kamar dan berjalan ke arah ruang tamu, dan benar saja disana sudah ada Yona dan empat orang temannya, 2 cowo dan 2 cewe. Satu per satu Yona memperkenalkan teman2nya itu. Ada Selvy, dan Mitha. Mereka memang sahabat dekat Yona, rumah merekapun di komplek ini, hanya saja beda blok, saking dekatnya mereka bahkan hampir tiap kerja kelompok mereka selalu bareng. Sedangkan dua orang lagi sepertinya baru kali ini kesini, mereka bernama Dio, dan Rizky. Dua lelaki muda itu melihatku tak berkedip ketika Yona memperkenalkanku pada mereka. Aku tidak ambil pusing, toh hampir semua teman cowo anak2ku bereaksi yang sama dengan mereka ketika bertemu denganku. Bahkan terkadang aku merasa bangga diperhatikan seperti itu, karena itu artinya aku masih sangat menarik, bahkan untuk ukuran anak SMP sekalipun.

“kalian mau minum apa?”, aku mulai menawarkan minum untuk membuka pembicaraan ke mereka.

“apa aja deh tan, yang penting dingin, abisnya panas banget siang ini”, Selvy menyahut duluan.

“iya bener kata Selvy tan”, Mitha membenarkan pendapat Selvy. Sedangkan dio dan Rizky tidak berkata apa-apa, hanya diam menatapku.

“Ooh ya udah, tante ke belakang dulu ya”, aku pun berlalu meninggalkan mereka. Baru beberapa langkah, aku mendengar salahsatu diantara mereka berbisik ke Yona, anakku.

“mama mu cantik juga ya na, kayak anak kuliahan mukanya”, bisikan itu terdengar seperti suara Dio, ya kayaknya itu suaranya. Aku hanya tersenyum. Dalam hati tersanjung juga dipuji sama anak SMP.

Lima menit kemudian aku sudah kembali dengan baki di tanganku. Muka teman-teman Yona langsung berubah cerah.

“ma, tadi kata Dio mama cantik”, ucap Yona ketika aku meletakkan minuman itu diatas meja.

“iya dong, kan mamanya Yona, Yona nya juga cantikkan?”, aku menjawab sambil tersenyum ke arah Dio. Anak itu cuma bisa memamerkan gigi-gigi putihnya sambil menggaruk-garuk kepala. Sementara itu Yona terlihat sangat senang ketika ku puji.

“ya udah ya, mama mau mandi dulu, gerah nih”, aku berkata pada Yona. “kalian yg serius ya ngerjain tugasnya, biar dapet nilai bagus”, “iyaa tanteeee”, koor mereka berempat.

Akupun meninggalkan anakku dan teman-temannya itu. Masuk ke kamar, mengunci kamar, dan langsung menuju kamar mandiku.


*******

Sore itu, pukul 17.30, aku sedang di dapur, memasak untuk makan malam. Sementara itu di ruang tamu teman-teman Yona sedang berkemas untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Tiba-tiba Dio meminta izin ke toilet dan Yona mengarahkannya untuk ke toilet yg ada di dapur. Sejenak hatiku berdebar karena sebentar lagi Dio, yg tadi bilang aku cantik akan kesini. Entah karena aku memang sedang merindukan belaian suamiku, atau kenapa, yg jelas tiba-tiba aku membayangkan bocah SMP itu menjamahku. Pikiranku mulai melayang.

“tant, lg masak kok ngelamun?”, aku dikagetkan oleh suara Dio yg suda berada tepat di belakangku.

“eeh.., ooh…engga kok”, aku tergagap menjawabnya.

“tante masak apa sih, kok baunya enak banget?”, Dio bergeser lebih dekat, bahkan sangat dekat, hingga pantatku merasa ada benda hangat yang entah sengaja atau tidak menggesek pantatku.

“ini, tante lg bikin tumis kangkung, kamu mau ngapain?”, aku sudah bisa mengendalikan diri lagi. Aku berpura-pura seolah tidak merasakan gesekan di pantatku.

“oiya hampir lupa, aku ijin ke toilet dulu tant”, Diopun langsung berjalan ke toilet. Tak lama terdengar suara orang sedang buang air kecil di dalam toilet. Aku menoleh ke toilet. Oh my God! Ternyata anak itu tidak menutup pintu.

Dari tempatku berdiri aku bisa melihat penisnya. Memang tidak terlalu besar, tapi sepertinya 9cm untuk anak seumuran dia sudah cukup bagus, apalagi penisnya kelihatan gemuk. Aahhh, kenapa aku jadi seperti ini?, kenapa otakku jadi nakal gini? Mas, istrimu mulai error nih, kangen kamu. Pikiranku masih saja berkecamuk, nafsuku sepertinya berdebat dengan hati nuraniku. Hatiku menyalahkanku tapi nafsuku mengatakan itu wajar, Karen sudah tiga bulan aku tak dijamah.

“tant, aku pulang dulu ya”, lagi-lagi anak itu mengagetkanku. Ternyata perdebatan dalam diriku membuatku tak sadar kalau dia sudah keluar dari toilet.

“ehh, iyaa…hati-hati yaa”, aku menjawab tanpa melihat kearahnya.

Aah gila!, nafsuku benar-benar tak tertahan, aku harus telpon suamiku. Segera setelah selesai masak, akupun masuk ke kamar dan berniat menelepon suamiku.

“halo sayang, ada apa yang, tumben nelpon jam segini”, terdengar suara suamiku diseberang sana.

“mas, aku horny nih. Pengen maen sm kamu, gimana dong?”, aku mulai menceritakan kegelisahanku.

“keluarin sendiri aja ma”

“udah pa, tapi makin hari makin horny”, nada suaraku mulai merajuk.

“waah gimana yaa? Oiya, kemaren waktu papa keliling disini papa lihat banyak yang jualan sex toys, nanti papa kirimin itu aja biar mama bisa puas yaa”, suamiku memberikan solusi.

“aah, papa ga ngerti aah!”, akupun mematikan hapeku.

Sedikit kesal dengan suamiku karena dia ga ngerti maksud omonganku. Ya, aku hanya ingin dia meladeni aku buat phonesex itu aja, bukan minta dibeliin sex toys, HUH!. Mana puas aku dengan sex toys, aku maunya kamu segera pulang mas! Aku cuma bisa membatin.

*****

Hari ini, aku baru saja pulang dari pengajian di masjid dekat komplek. Ku lihat didepan rumah terparkir motor Satria FU, entah punya siapa. Aku masuk ke dalam, disana sudah duduk seorang pemuda yg cukup tampan. Selang beberapa saat Dian muncul membawa dua gelas minuman.

“eh, mama udah pulang”, Dian menghampiriku setelah meletakkan minum. Dia menciumku kemudian memperkenalkan sosok pemuda tampan yang saat ini sedang duduk.

“maa, ini Ardo, pacar Dian”, pemuda yang ternyata bernama Ardo itupun mengulurkan tangannya.

“Hany, mamanya Dian”, aku menyambut tangannya dan tersenyum. Sekilas wajahnya tersenyum ramah. Aku sedikit terkesan dengannya. Beda dari kebanyakan teman anak2ku, yang suka menatapku penuh nafsu. Ardo menatapku dengan ramah, tak terlihat ada nafsu dalam pandangannya.

Setelah itu akupun mulai duduk menemani Dian dan pacarnya itu, dan sedikit menginterogasi Ardo tentang asal usul keluarga serta kegiatannya di kampus.

Dari hasil obrolan itu, aku dapat menyimpulkan bahwa Ardo adalah cowo baik-baik. Tidak salah Dian memilihnya jadi pacar. Ardo adalah anak salah seorang anggota Dewan. Di kampus, dia aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) debat. Dan Dian ternyata mulai mengenal Ardo melalui UKM tersebut.

****

Sejak hari perkenalan itu, Ardo hadir sebagai pengganti suamiku di rumah kami. Jika ada yang rusak di rumah ataupun hal-hal lain yang membutuhkan tenaga lelaki maka yang pertama kali kami hubungi adalah Ardo. Hari ke hari, hubungan Ardo dan Dian semakin dekat. Dan hubungan dengan Ardo dan dua anakku yg lain juga semakin dekat. Aku? Ya, akupun tak bisa pungkiri mulai menganggap Ardo seperti anakku sendiri. Bahkan karena dekatnya hubungan kami, beberapa kali aku mengizinkan Ardo untuk menginap di rumahku. Selama ini tidak ada yang aneh dari sikap Ardo.

****

Siang ini aku capek sekali, cuaca sangat garang dan aku baru saja selesai senam di tempat fitness depan komplek. Benar-benar perpaduan sempurna. Capeknya terasa banget.

Aku masuk ke rumah, tidak ada siapa-siapa. Akhirnya aku memilih untuk duduk sejenak di sofa ruang tamu sambil membuka hape. Tadi saat aku senam memang ada beberapa sms yg masuk tapi belum sempat ku cek.

Sender : Hendro My Love
Sayang, paket sex toys nya udah aku kirim, tunggu ya, paling lama juga seminggu udah nyampe ..
Selamat bersenang2 ya sayang, maaf ya sayang aku belum bisa pulang dalam waktu dekat ini
mudah2an ga sering sakit kepala lagi.
Peluk cium, :* {[]}
Sender : Dita My Love
maaa, aku lg di rumah Monic ngerjain tugas.
Sender : Yona My Love
maa, aku main ke rumah Mitha yaa, ntar jam 18.00 udah di rumah kok
masak makan malam yang enak yaaa :*
Ternyata sms dari suami dan anak2ku. Ah, suamiku. Tau banget aku lagi kesepian. Ku piker tadinya cuma becanda waktu dia bilang mau beliin aku sex toys biar ga tersiksa horny terus2an. Ahh, suamiku emang the best.
Aku membalas sms itu satu per satu. Baru beberapa menit, tiba-tiba Dian datang bersama Ardo. Sepertinya baru pulang kuliah.

“ma, aku ijin mau ke rumah sakit jenguk Shinta ya, dia kecelakaan, diantar Ardo kok”.

“iya tant, Ardo yang anter, ntar Ardo anterin lagi pulang”, Ardo menyahut agar aku memberi izin.

“iya sayang boleh, asal pulangnya ga malam-malam banget, paling lambat jam 22.00 udah di rumah”, aku tersenyum kearah Dian. Kemudian melirik Ardo dan berkata “kamu hati-hati bawa motornya, jangan sampe kecelakaan”. Ardo hanya tersenyum.

“ya udah, aku ganti baju dulu ya ma”.

“ya udah sana, buruan”

“yang aku tinggal bentar ya”, Dian berlalu ke kamarnya.

“tant, aku ijin ke toilet bentar ya”, Ardopun berdiri meninggalkanku sendirian di ruang tamu.

Ku lihat di meja ada sebotol Coca cola dingin. Akupun tergoda untuk meminumnya. “Ini punya Dian kayaknya, soalnya tadi Dian yang megang botol minuman”, pikirku.

Tanpa menunggu lama aku pun meminum coca cola tersebut. Ternyata aku sangat haus, hingga tanpa sadar coca cola itu habis ku tenggak. Tak berapa lama Dian muncul dari kamarnya.

“sayang, tadi coca colanya mama minum, gpp kan?”, aku langsung memberi tahu Dian sebelum dia bertanya.

“iya gpp ma, itu tadi dibeliin Ardo, ntar Dian bisa beli lagi kok, oia Ardo mana ma?”, belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Ardo sudah muncul dari arah dapur.

“udah siap berangkat sayang?”, Ardo bertanya pada Dian. Anak gadisku itu hanya mengangguk.

“tant, aku sama Dian berangkat dulu ya”, Ardo pun berpamitan sambil mencium tanganku.

“iya, hati-hati, dan ingat, jangan pulang larut malam”, aku mengingatkan kembali janji yang kita sepakati.

“siap bos cantik”, Dian menjawab sambil mencium ku. Kemudian mereka berduapun berangkat.

Setelah kepergian mereka, aku memutuskan untuk berbaring di sofa ruang TV, lelah sekali rasanya hingga ku putuskan untuk bersantai sejenak.

Dua puluh menit setelah kepergian Dian dan Ardo, aku yang masih duduk di sofa merasa badanku sangat gerah.
Tak cuma itu, putting susuku terasa agak gatal. Aneh, tak biasanya aku merasa tiba-tiba terangsang seperti ini. Awalnya ku coba untuk menahan tapi makin lama makin meningkat rasa gatalnya, dan bukan itu saja kini aku merasakan hal yang sama pada vaginaku. Ku coba berusaha menahan tapi sudah hampir tidak kuat, dudukku pun jadi gelisah. Ku coba goyangkan badanku agar rasa gatal itu hilang bergesekan dengan bahan bra lembut yg kupakai dibalik pakaian senamku. Tapi rasa gatalnya tidak berkurang, bahkan kini seluruh daging kenyal payudaraku terasa gatal. Kakiku pun ku coba silangkan, tapi rasa gatalnya semakin menjadi.

“Ouuugghh..” aku sudah tidak tahan, aku mulai menggaruk sedikit kedua payudara dengan tanganku, saat ku garuk terasa nyaman sekali karena gatalnya berkurang tapi sulit untuk berhenti menggaruk. Aku pun terus menggaruk sambil memejamkan mata karena keenakan.

“Uuuuuffh..ssshh…” aliran darah ku berdesir cepat karena sensasi menggaruknya itu selain menghilangkan rasa gatal juga membuat birahi terus bangkit. Aku terus menggaruk, aku mencoba bangkit dari sofa tapi rasa gatal itu makin menghebat yang akhirnya membuatku teduduk kembali sambil terus menggaruk. Aku terus menggaruk tanpa sadar di depan pintu sudah ada seorang lelaki paruh baya yang mengintip.

“permisi, ada orang?”, terdengar suara tepat di depan pintu rumahku. Aku tersentak, seperti kembali ke alam sadar. Ku lihat ke arah pintu depan, tampak Pak Muluk disana sedang mencoba mengintip ke dalam rumah. Aduh, apa dia tadi sempat melihatku yang sedang menggaruk-garuk ya? Hatiku berdebar memikirkan itu.
Bergegas ku berjalan ke depan. Kubukakan pintu dan kupersilakan dia masuk.

“Silakan Pak duduk dulu ya, saya ambil uangnya”, senyumku ramah sambil mempersilakannya duduk di ruang tamu. Aku tahu pak RT datang untuk meminta iuran kebersihan.

“Kok sepi sekali mbak, anak-anak pada kemana?”

“Dian sedang mejenguk temannya yang kecelakaan, Dita sedang belajar kelompok di rumah temannya dan Yona juga sedang di rumah temannya, sepertinya mereka hari ini pulangnya malam”, dengan bodohnya aku menjawab detail seolah-olah ingin mengatakan bahwa sampai nanti malam aku hanya sendiri di rumah ini.

Seperti biasa matanya selalu saja menatapi tubuhku, terutama bagian dadaku yang sangat membusung. Aku juga sadar kalau dadaku sempat diintip olehnya waktu menunduk untuk menaruh segelas teh untuknya.

“Minum Pak”, tawarku lalu aku duduk di depannya. Rasa gatal di dada dan vaginaku belum hilang. Hal ini membuat vaginaku terus mengeluarkan cairan cintaku.

Lama berbincang dengan Pak Muluk, nuansa pun mulai terasa cair di ruang tamuku yang nyaman itu. Dia menanyaiku sekitar masalah anak-anakku, seperti kuliah, hoby, kegiatan keluarga, dan tentu saja tak lupa menanyai kabar Hendro yang sedang di luar negeri, tapi matanya terus menelanjangiku.

“Mbak habis olah raga ya?, soalnya badannya keringatan gitu terus mukanya merah lagi” katanya.

“Iya nih Pak, biasalah pak, wanita harus menjaga badan lah, biar suami gak tergoda sama yang lain”, ucapku. Padahal mukaku memerah karena sudah sangat horny.

“cuma bapak lihat sekarang mbak kelihatan cape banget, pengen dipijat ?, Bapak bisa bantu pijitin kok?”, kaget juga aku mendengar keberanian Pak Muluk menggodaku.

“enggghh,,ga usah deh pak, saya mau istirahat aja”, akupun menolak secara halus. Aku berdiri untuk mengisyaratkan agar Pak Muluk segera pergi. Pak Muluk memang ikut berdiri, tapi kemudian dia berkata

“bapak tadi lihat lho, kamu menggaruk2 dada dan memek mu itu, dan bahkan bapak sempat videoin sebentar”, kata-katanya terasa seperti petir di siang bolong. Aku kaget, tapi berusaha menyembunyikan kekagetanku. Sementara Pak Muluk tersenyum penuh kemenangan. Aku duduk kembali diikuti oleh Pak Muluk yang berpindah duduk ke sebelah ku.

“bapak bisa saja menyebarkan video ini ke orang-orang komplek sini, bahkan bapak bisa upload di internet”, Pak Muluk berkata pelan seperti berbisik.

"Jangan! Jangan, pak. Jangan sebarkan, tadi saya hanya sedikit khilaf…!” ucapku. Suaraku gemetar. Membayangkan jika video itu benar-benar disebar. Mataku mulai berkaca-kaca, membuat rasa horny ku tadi sedikit hilang.

“Hmmm, bisa saja saya tak sebarkan video itu, bahkan kalau mbak mau saya bisa hapus video itu, tapi tentu saja nggak gratis toh?!”, Pak Muluk mulai melancarkan serangannya. Ya, serangan ke arah psikologisku.

“Berapa saja saya berikan pak, bapak mau berapa saya langsung kasih, asal video itu dihapus”, aku semakin gugup menjawabnya.

“bukan berapa mbak, tapi apa, hehehe…”, Pak Muluk mulai terkekeh.

“Hmmmm…” Pak Muluk pura-pura berpikir. “gimana kalau saya bantuin mbak buat masturbasi dan mbak juga bantu saya?”, belum sempat aku menjawab, tangan halusku digenggam olehnya.
Hatiku berontak tapi tak mampu memberi perlawanan yang berarti melawan gertakan Pak Muluk yang mengancam akan menyebarkan video itu.

“sepakat kan?”, Pak Muluk bertanya seolah-olah ingin ketegasanku. Akupun terpaksa mengangguk lemah.

“Nah, kalau udah sama-sama sepakat kan enak”, Pak Mulut tersenyum buas. “Mari mbak, kesinikan kakinya biar Bapak pijat”, ucapnya lagi.

Aku lalu mengubah posisi dudukku menjadi menyamping dan menjulurkan kakiku ke arahnya. Dia mulai mengurut paha hingga betisku. Uuuhh..gilaaa pijatannya benar-benar enak, telapak tangannya yang kasar itu membelai pahaku yang putih mulus hingga semakin membangkitkan birahiku. Akupun mendesah-desah sambil menggigit bibir bawahku.

“Pijatan Bapak enak nggak mbak?” tanyanya.

“Iya Pak,.. enak nih.. emmhh!”, nggak sadar aku menjawab seperti itu, mulutku terus mendesah membangkitkan nafsu Pak Muluk, desahanku kadang kusertai dengan geliat tubuh.
Dia semakin berani mengelus paha dalamku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan meremasnya.

“Enngghh.. Pak!” desahku lebih kuat lagi ketika kurasakan jari-jarinya mengelusi bagian itu.
Tubuhku makin menggelinjang sehingga nafsu Pak Muluk pun semakin naik dan tidak terbendung lagi. Celana sportku yang seperti legging mulai diperosotkannya beserta celana dalamku.

“Aawww..!” aku kaget sambil menutupi kemaluanku dengan telapak tanganku, bagaimanapun ini pertama kalinya bagiku membiarkan orang lain selain suamiku melihat vaginaku.

Melihat reaksiku yang seperti itu membuatnya makin gemas saja, ditariknya celanaku yang sudah tertarik hingga lutut itu lalu dilemparnya ke belakang, tanganku yang menutupi kemaluan juga dibukanya sehingga kemaluanku yang berambut lebat itu tampak olehnya, klitorisku yang merah merekah dan sudah becek siap dimasuki. Pak Muluk tertegun beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawahnya itu.

“Kamu memang sempurna mbak, dari dulu Bapak sering membayangkan tubuh kamu, akhirnya hari ini kesampaian juga”, rayunya.

Dia mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya yang berlemak dan dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah dan tegak. Sejenak aku ternganga melihat penis Pak Muluk, panjang, berurat dan tebal. Lebih panjang dari punya suamiku. Aku menatap takjub pada benda itu. Pak Muluk mulai membuka pahaku lalu membenamkan kepalanya di situ.

“Hhmm.. wangi, pasti mbak rajin merawat diri yah” godanya waktu menghirup kemaluanku yang kurawat dengan apik dengan sabun pembersih wanita.

Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik vaginaku, oohh.. lidahnya menjilati klitorisku, terkadang menyeruak ke dalam menjilati dinding kemaluanku. Lidah tebal dan kumisnya itu terasa menggelitik bagiku, aku benar-benar merasa geli di sana sehingga mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya. Kedua tangannya menyusup ke bawah bajuku dan mulai meremas buah dadaku, jari-jarinya yang besar bermain dengan lembut disana, memencet putingku dan memelintirnya hingga benda itu terasa makin mengeras.

“Pak.. oohh..duuhhh, kenapa jadi giniihhh.. Pak!” desahku tak tahan.

“Enakkan mbak?”

“Hmmmmm…nggh…”, aku hanya mengerang dan memejamkan mata. Nafsu, malu, marah dan benci bercampur menjadi satu. Namun, nafsuku masih lebih berkuasa. Jilatan itu terasa makin nikmat, aku sampai tanpa sadar menggoyang-goyangkan pinggul ku ketika Pak Muluk berhenti sebentar. Aku sudah benar-benar dikuasai nafsu birahi. Aku sudah seperti wanita-wanita murahan yang suka menjajakan dirinya. Tidak sampai 10 menit aku sudah merasakan akan keluar.

“Ouuh..gilaaa..paaakkh..oouuuhhhhhhhhh..”, aku mencapai klimaks, badanku terus menggeliat menikmati sisa sisa orgasme ku. Gila ! Aku orgasme oleh lidah Ketua RT ku, istri macam apa aku ini? Hatiku terus menyerang pikiranku dan menyalahkanku.

“sekarang gantian yaaa”, Pak Muluk menarik tanganku ke arah penisnya. Aku menurut saja, dengan lembut ku elus-elus penis besar itu. Desahan terdengar dari mulut Pak Muluk. Baru dua menit, tiba-tiba Pak Muluk melepas genggamanku pada penisnya. Ia berdiri dan mengarahkan penisnya ke mulutku. Ditampar-tamparkannya penis itu ke pipiku.

“mulutnya dibuka mbak”, Pak Muluk berkata pelan tapi tegas. Pak Muluk sudah menggesek-gesek penisnya ke mulutku yang masih terkatup. Aku masih belum mau membuka mulutku. Apakah harus sampai sejauh ini? Apa tidak bisa aku kocok saja sampai keluar?, batinku masih terus saja berperang.

“ayolah mbak, kita sudah setengah jalan, daripada videonya saya sebar?”, kata-kata itu akhirnya meluluhkan perlawananku. Sedikit demi sedikit mulutku membuka menerima kehadiran batang penis bandot tua itu.

“Aaaahh.. ”, Pak Muluk mulai mendesah. Terasa hangat ketika rongga mulutku penuh oleh penisnya. Dipegangnya kepalaku yang masih terbungkus jilbab putih, lalu pelan-pelan digerakkannya kepalaku maju mundur, memompa penisnya. Lama-lama, seperti sudah terbiasa tanpa dorongan darinya kepalaku tetap bergerak-gerak sendiri.

“Hmmmhhh…” Pak Muluk kembali mengerang. Aku memang sudah terbiasa melakukan blow job untuk suamiku, wajar saja kalau RT brengsek ini keenakan dengan serviceku. Selain mengulum dan memompa penisnya, aku juga menjilati dan mengulum buah pelirnya. Hal ini ku lakukan tak lain hanya agar dia segera tuntas dan pergi dari rumah ini. Pak Muluk tampak tersenyum melihatku yang terus memompanya. Mungkin sensasi tersendiri baginya ketika melihat wanita yang masih berjilbab menjilat-jilat penisnya dan mengemut-emut buah zakarnya dengan wajah merah padam. Marah, malu, risih, takut, namun juga birahi, membuat wajah cantik berjilbabku ini semakin cantik dimatanya.

“Aauh.. Uuhhhh.. Uuuhhhh..”, Pak Muluk terus merintih menahan kenikmatan, semantara aku sibuk dengan aktivitas mengulumku.

“Aahhh.. Hmmhh.. Ayo, mbak! Saya sudah mau keluar ini…” rintihnya, sepertinya dia merasa sudah mau meledak.

Aku tak menjawab, semakin hebat ku sedot penisnya. Tubuhnya mengejang dan tanpa bisa dibendung lagi, muncratlah cairan putih itu. Aku segera melepas mulutku sehingga cairan itu berserakan mengenai kepala dan wajahku. Tubuhnya terhempas di sandaran sofa.
Aku segera menjauh dari tubuh dan penisnya yang masih berkedut-kedut, lalu meraih tissue di meja dan mengelap bibir, wajah, serta kepalaku yang terkena semprotan spermanya.

“Saya sudah melayani bapak, sekarang tolong bapak berikan video itu untuk kuhapus!” kataku tegas. Tubuhku masih bergetar. Nafasku masih memburu. Aku sadar bahwa diriku masih ada dalam genggaman nafsu birahi, getaran-getaran nafsu itu masih menjalari tubuhku. Namun aku tidak ingin RT bejat itu berbuat lebih jauh. Segera ku rapikan pakaianku. Celana dalam dan celana sportku kupakai lagi. Ku lihat Pak Muluk memungut bajunya dan memakainya kembali.

“hahaha…video apa?”, Pak Muluk tertawa mengejekku.

“jangan macam-macam ya Pak, saya sudah turutin kemauan bapak, sekarang waktunya bapak turutin kemauan saya!”, suaraku mulai meninggi. Emosi, karena merasa dipermainkan.
“mbak Hany yang cantik, saya memang nggak punya video apa-apa, tadi saya kesini dan mengintip ke jendela, saya lihat mbak sedang menggesek-gesek memek mbak dengan tangan mbak sendiri, makanya saya bisa tahu kalau mbak sedang birahi tinggi, hehehe”, Pak Muluk terkekeh sendiri. Dia lalu berjalan meninggalkan ruang tengah hendak keluar.

Aku hanya diam mematung. Merutuki bodohnya diriku yang percaya saja ketika dia bilang bahwa dia punya video aku yang sedang masturbasi. Ahh, harusnya aku minta bukti dulu. Arrghhhh..tiba-tiba aku merasa kesal sendiri dengan kebodohanku.

“mbak, ternyata sedari tadi kita main, pintu ini masih terbuka lho!”, Pak Muluk yang sudah berada di depan pintu berujar lagi. Degg! Lagi-lagi,,ah, dasar Hany bodoh!, bagaimana jika ada yang lihat permainanku dengan Pak Muluk tadi? Huh! Aku lagi-lagi merutuki kebodohanku.

“Saya pulang dulu mbak, makasih jamuannya, memeknya enak”, Pak Mulukpun berlalu meninggalkan rumahku.

Setelah kepergiannya, akupun segera mengunci pintu dan masuk ke kamarku. Ku kunci kamarku dan segera ku masuk ke kamar mandi. Ku nyalakan shower, dengan masih berpakaian senam tadi ku guyur tubuhku. Ku menangis sejadi-jadinya karena sudah melakukan hal terkutuk dengan ketua RT bejat itu. Aku menangis, karena sudah mengkhianati suamiku. Satu jam lebih aku baru keluar dari kamar mandi. Ku keringkan tubuhku. Ku lihat layar hapeku seperti ada sms yg masuk.

=====================================================================

POV : Ardo


“bee kita ke rumahku dulu ya bentar”, ucapku pada Dian kekasihku.

Ya, klo berdua aku memang suka memanggilnya bee. Kenapa aku memanggilnya begitu? Karena memang dia itu kayak “bee” (lebah). Kamu itu orangnya berisik banget kayak lebah, tapi kamu juga memberi banyak kebaikan dimanapun kamu berada, kayak lebah yg bantuin bunga untuk mekar. Begitulah jawabanku waktu dian nanya kenapa aku memanggilnya “bee”.

“mau ngapain bo? Ntar ke rumah sakitnya telat, jam besuknya abis”, Dian menolak ajakanku.
Bo? Ya, Dian emang ga terima dipanggil bee, makanya dia manggil aku bo, kebo sih lebih tepatnya. Aku sempat protes tapi dia bilang aku itu kerjaannya tidur mulu, persis kayak kebo.
“tapi kan aku kurus?”, ucapku saat itu. “iya, kamu kebo kurus”, Dian berkata sambil memeletkan lidahnya padaku. Ya, saat itu umur hubungan kami memang baru satu minggu.

Aku Ardo, mahasiswa semester V. Aku dikaruniai wajah yang tampan dan tubuh yang proporsional. Tinggiku 178 cm. Dan ga cuma itu, akupun memiliki penis yang cukup besar untuk ukuran anak Indonesia, 18 cm. Sepertinya Tuhan sangat sayang padaku, tidak hanya sempurna dalam hal fisik, dalam materi pun aku tidak pernah kekurangan. Aku anak seorang pejabat, ya ayahku anggota DPR –Dewan (yang katanya) Perwakilan Rakyat-, sedangkan ibuku sudah meninggal sejak aku berumur 8 tahun. Ibuku meninggal karena sakit. Sejak ibu meninggal, ayah tidak pernah menikah lagi. “Tidak ada yang bisa mengganti ibumu dihati ayah”, begitu selalu alasan ayah ketika ku tanya tentang ibu baru. Meski begitu aku tahu ayah sering melampiaskan nafsunya ke mbak Erni, pembantuku yang sekarang berusia 30 th. (Dilain waktu mungkin akan ku ceritakan skandal mereka).

Kekayaan dan ketampanan yang ku punya tampaknya menjadi magnet bagi setiap wanita. Banyak wanita yang ingin menjadi kekasihku. Jujur, sewaktu SMA aku memang sudah sering gonti-ganti pacar. Dan hampir semua mantan pacarku pernah aku cicipi, yaa walaupun hanya sebatas petting hingga oral seks. Selama ini aku memegang prinsip bahwa aku akan melepas perjakaku ketika aku sudah menikah.

Saat aku kuliah, aku berhenti untuk berpetualang. Bagiku sudah saatnya aku menjalin hubungan yang sehat. Disaat itulah aku bertemu dengan Dian. Dian gadis yang berbeda. Dia cantik, dia sangat sopan dan tidak pernah memandangku dari kekayaanku yang berlimpah. Entah kenapa fakta yg ku sebut terakhir itu membuat dia terlihat sangat cantik di mataku.

Lama termenung, tak terasa aku sudah berada di dekat jalan menuju rumahku. Akupun membelokkan motor ke jalan itu.

“bo, kok belok sih?!”, Dian memukul punggungku lembut.

“ke rumahku bentar, aku mau ganti baju, bentar aja kok”, aku menoleh ke Dian sambil mengedipkan mata. Dian hanya manyun menunjukkan ekspresi tidak suka. Lima menit kemudian kamipun sampai di rumahku.

Kami sudah sampai di rumah dan aku langsung masuk kamarku. Dian ku suruh menunggu di ruang tamu sedangkan aku langsung berlari ke kamarku. Ku lirik jam tanganku sejenak. Sudah dua puluh menit lebih sejak aku memberinya coca cola itu, tapi kenapa nggak ada tanda-tanda dia horny ya? Aneh! Aku segera menghubungi Firman, teman sekaligus bandar yang selalu menjadi tempatku untuk membeli obat perangsang itu.

“eh, man kok obat lu nggak ngefek sih?”, aku langsung bertanya saat Firman mengangkat teleponku.

“ga ngefek gimana bro? lu kan udah sering ngasih ke cewe-cewe lu sebelumnya”, Firman menjawab. Suaranya terdengar agak kaget.

“iya, tapi tadi gue udah kasih Dian. Eh, sampai sekarang mukanya biasa aja, ga keliatan lagi sange”, aku mencoba menjelaskan pada Firman, kali aja dia tahu kenapa bisa gitu.

“mungkin cewe lu terlalu alim bro, jadi dia sembunyiin rasa hornynya dia, coba lu pancing dulu, cipok dulu kek, atau grepe-grepe gitu”, Firman memberikan solusi.

Ah iya, Dian kan emang terkenal sebagai cewe alim, cewe baik-baik. Mungkin benar kata Firman, harus dipancing dulu nafsunya. Akupun bergegas mengganti baju dan langsung turun ke bawah. Ku lihat mbak Erni sedang menyiapkan minuman di dapur.

“mbak ga usah, kita udah mau jalan lagi kok”, ucapku sedikit teriak, takut mbak erni ga dengar. Di ruang tamu ku lihat Dian asyik membaca koran sambil sesekali melirik jam tangannya. Aku langsung duduk disebelahnya dan memeluknya.

Dian mencoba mendorongku sekuat tenaga memperlihatkan penolakannya. Tak peduli dengan penolakannya, akupun langsung melumat bibirnya dengan buas. Tanganku tak tinggal diam, ku coba arahkan ke gundukan payudaranya yang mempesona. Tapi tanganku tertahan oleh tangannya. Tak lama akupun melepaskan bibirku dari bibirnya.

“hiks..hik…hiks…”, Dian menangis setelah bibirnya terlepas dari bibirku.

“bee, kamu kok nangis?”, tanyaku heran. Pertanyaan bodoh sebenarnya, karena selama ini kita memang belum pernah sejauh ini.

“bo, aku takut….hiks,,hik..hiks…hiks…”

“takut kenapa bee?”, aku mendekat dan membelai rambutnya. Tak ada perlawanan dari Dian. Suara tangisnya berhenti. Dian menatap mataku lekat-lekat.

“aku takut sama kamu, kamu jadi buas, aku nggak suka kamu gitu, aku takut”, ucapnya lirih namun mengena di hatiku.

“kamu masih ingatkan janji kamu, gak akan perlakukan aku kayak mantan-mantan kamu?”, Dian melanjutkan lagi. Aku terenyuh, untuk sesaat nuraniku kembali tersentuh.

“aku ingat kok, maaf ya tadi aku udah ga tahan liat kamu”, aku memeluknya, kali ini pelukan penuh kasih dan Dianpun nggak menolak.

“aku janji, aku ga akan macem-macem lagi, aku akan selalu menjaga kamu sampai kita nikah”, bisikku di telinganya. Kamipun berpelukan cukup lama.

“aku tahu kok, susah buat kamu lakuin itu, susah buat kamu nahan nafsu kamu, karena biasanya selalu diturutin sama mantan-mantan kamu, dan karena itu aku udah mutusin klo aku bakal kasih kamu keringanan”, aku bingung dengan pernyataan Dian, dan aku pun melepas pelukan itu.

“kamu boleh cium aku, tapi ada syaratnya”, lanjut Dian setelah pelukan kami lepas.

“syarat apa bee?, aku pasti penuhin syarat itu”, ucapku tersenyum.

“kamu harus minta dulu klo mau nyium aku, ga boleh tiba-tiba kayak tadi”, Dian tersenyum. Senyum yang sangat manis yang pernah ku lihat.

“klo sekarang boleh?”, ucapku sambil menatap matanya. Dian hanya mengangguk. Dan memejamkan matanya.

Tanpa dikomando lagi bibirkupun langsung beradu dengan bibir Dian yang lembut. Lama kami saling melumat. Lumatan penuh kasih sayang. Entah kenapa setelah berulang kali ciuman, bagiku ciuman kali ini ciuman paling nikmat. Mungkin karena Dian mampu memberiku cinta yang tulus.
Setelah ciuman ku lepas Dian langsung berdiri, dia menarik tanganku. Dan kamipun langsung keluar rumah.

“yang ngebut ya bo, aku udah di bbmin dari tadi”, ucap Dian ketika kita sudah akan jalan. Ku starter motorku.

“siap tuan putri, aku akan antar kamu tepat waktu”.

Kamipun berangkat menuju rumah sakit. Di tengah jalan kami lebih banyak diam. Entah kenapa aku masih bingung dengan obat perangsang itu. Sekuat itukah Dian hingga dia bisa menahan nafsunya?, penasaran akupun mencoba bertanya pada Dian.

“bee, coca cola yang aku beliin tadi masih ada? Haus nih”, ucapku ketika kita berhenti di salah satu lampu merah.

“udah abis boo, tadi diminum sama mama, aku aja belum minum tadi”, jawaban Dian benar-benar membuatku kaget, pantesan Dian ga terangsang, dia ga minum. Huh!

“oooh gpp bee, nanti aku beliin lagi deh”, ucapku.

Tapi apa yang terjadi sama mamanya Dian ya? Kan papanya lagi ga ada? Apa dia masturbasi sendiri? Atau jangan-jangan dia punya sextoys? Menarik juga membayangkan wanita cantik berjilbab sambil mainin dildo di vaginanya. Ahh, membayangkan hal itu tanpa sadar penisku pun menegang. Daripada bayangin mending aku lihat sendiri.

“bo, kamu mau nungguin dimana?”, Dian bertanya padaku. Saat ini kami sudah sampai di depan rumah sakit.
“aku pulang dulu aja ya bee, ntar klo kamu udah selesai sms aku, gimana?”, ucapku berbohong, sebenarnya aku ingin melihat tante Hany masturbasi karena obat perangsang itu. Pasti seru, apalagi tante Hany udah hampir empat bulan ngga ngerasain belaian suaminya.

“hmm, oke deh, tapi jangan tidur yaaa, ntar ga ada yg jemput aku”, ucap Dian lagi.

“oke cantik, aku pulang yaaaa, byeeee”, akupun berlalu dari rumah sakit itu. Sesaat sebelum menghilang dari rumah sakit ku lihat Dian bergabung dengan teman-temannya yang juga sama-sama ingin menjenguk Shinta.


*******

Saat ini aku sudah berada di depan pagar rumah Dian. Seperti biasa, pagar ini tidak pernah dikunci kecuali malam hari. Namun aku agak kaget, pintu depan terbuka cukup lebar. Akupun melangkah perlahan ke dalam. Agak berjinjit agar gesekan kakiku dengan lantai tidak menimbulkan suara. Belum sampai ke depan pintu, ku dengar suara desahan-desan, akupun mencoba melihat ke dalam melalui jendela. Ada seorang laki-laki sedang menjilati memek tante Hany. Gila! Sepertinya ada lelaki yang beruntung karena ulah obat perangsang tadi. Sepertinya lelaki itu udah tua. Entah siapa bapak tua itu. Tiba-tiba ide nakal muncul di otak kotorku. Ku nyalakan hapeku dan kurekam kegiatan mereka. Sepertinya aku belum terlambat untuk menikmatai tontonan ini. Sambil terus merekam, tanganku yang satunya mulai mengocok-ngocok penisku. Aahh, gila! Tante satu ini merangsang banget. Untung ngga ada yang lewat, bisa malu aku kalau ketahuan sedang ngocok sambil ngintip.

Lebih dari setengah jam akhirnya permainan mereka berakhir. Ah, sebelum bapak tua itu keluar lebih baik aku pergi. Akupun langsung memacu motorku menuju rumah sakit. Menjemput Dian tentunya. Diperjalanan aku terus membayangkan tubuh mulus tante Hany. Aku tak menyangka calon mertuaku itu bisa sebinal itu. Sepertinya aku bisa memanfaatkan keadaan ini. Hehehe.

Sesampainya di parkiran rumah sakit, aku langsung hubungi Dian dan bilang aku menunggu di parkiran. Setelah itu aku keluarkan hape satu lagi. Hape yang biasa aku gunakan untuk menghubungi teman-teman mesumku seperti Firman tadi. Ku sms tante Hany dengan nomer itu.

=====================================================================
 Pukul 11.00 WIB
Aku sudah berada di waroeng st*ak, tempat aku dan orang misterius itu janjian untuk bertemu. Aku rasa orang itu adalah warga di sekitar rumahku. Ya, mungkin satpam perumahanku atau tetangga yang tidak sengaja lewat dan melihat perbuatan yang aku lakukan dengan Pak Muluk kemaren. Yang pasti kali ini aku nggak boleh kecolongan seperti yang terjadi kemaren. Aku nggak boleh bertindak buru-buru lagi. Siang ini suasana tempat ini agak sedikit ramai. Sudah 20 menit, bahkan pesananku yang cuma strawberry milkshake belum datang sampai sekarang. Dan orang misterius itu juga belum mengabari sama sekali. Berulangkali aku mengecek hape ku, tapi tidak ada apa-apa. Sesekali mataku berkeliaran mengitari tempat ini, tapi tetap saja hasilnya nihil. Aku mengecek hape ku lagi.

“Tante, sedang apa disini?”, aku tersentak dan menoleh ke belakang. Ternyata Ardo, pacar anakku itu tersenyum kearahku.

“tante lagi nunggu temen nih, kamu sendiri lagi ngapain?”, tanpa ku suruh Ardo langsung mengambil posisi duduk dihadapanku.

“aku jg nunggu orang nih, aku duduk disini yaa”, Ardo langsung duduk di hadapanku.

Tak berapa lama kamipun sibuk dengan hape masing-masing. Aku heran kenapa orang misterius itu belum memberi kabar juga. Ku coba untuk menelpon ke nomor itu. Tidak aktif. “Ah, apa kemaren orang itu cuma iseng? atau orang itu saat ini sudah ada di tempat ini, dan karena dia melihat aku berdua dengan Ardo jadi dia takut?”, aku masih mencoba menerka apa yang sedang terjadi pada orang misterius itu.

“tan, aku punya video menarik coba lihat deh”, Ardo akhirnya pindah duduk ke sampingku sambil memperlihatkan video yang ada di hapenya.

DEG! Jantungku tiba-tiba terasa berdetak lebih cepat. Kepalaku serasa dihantam sebuah batu besar. Video yang diperlihatkan Ardo adalah permainanku dengan pak Muluk. Berarti orang misterius itu adalah Ardo. Bagaimana bisa seperti ini? Darimana anak itu mendapatkan video ini?

“kamu dapat darimana video itu?”

“aku sendiri yang rekam”, suara Ardo terdengar pelan tapi tegas.

“jadi yang kemaren ngesms itu kamu?”, suaraku mulai meninggi karena tidak menyangka bahwa Ardo adalah orang misterius itu.

“iya, aku yang sms karena aku mau konfirmasi ini sebelum aku beritahu Dian tentang kelakuan tante ini”

“Do, ini nggak seperti yang kamu bayangkan kok”, suaraku mulai melunak.

“maksud tante?”

“tante kemaren cuma terpaksa melayani pak RT itu, tante diancam, please jangan kasih tau keluarga tante”

“oiya? Kok aku lihatnya nggak kayak orang yang lagi dipaksa ya?”, Ardo sedikit tergelak ketika mengatakan itu. Tiba-tiba gambar aku yang sedang mendapat orgasme di zoom oleh Ardo.
Wajahku terlihat sangat menikmati sekali orgasme itu.

“ga nyangka ya tante bisa senakal ini”, ucap Ardo lagi, suara Ardo tenang tapi terasa menghujam sangat dalam di jantungku.

Panik, bingung, sedih, kecewa, marah, semua bercampur jadi satu. Aku tidak menyangka orang misterius itu adalah Ardo, pacar anakku sendiri. Yang pasti saat ini mukaku memerah. Mataku agak berkaca-kaca.

“Do, tante mohon kamu hapus video itu ya, jangan kasih tahu keluarga tante, pleeaaaseeee”, aku mencoba memohon pada Ardo.

“Lho tant, kok tante malah ngajarin saya buat berbohong sih? Kan aku cuma mau menyebarkan kebenaran, kecuali kalau tante….”, Ardo tidak meneruskan kata-katanya.

“kecuali apa? Kamu mau apa dari tante? Uang? Tante bisa transfer sekarang kalau kamu mau”, aku mulai panik.

“kecuali kalau tante mau tidur sama aku”, ucap Ardo tenang.

“enggak, jangan kurang ajar kamu!”, emosi ku meninggi, tak menyangka kalau Ardo akan mengatakan itu.

“ya udah kalau tante nggak mau, aku juga nggak suka maksa orang, paling dalam waktu dekat tante bakal butuh pengacara buat ngurusin perceraian tante”, Ardo berdiri dan siap untuk meninggalkan tempat ini.

“Ardo, tunggu!”, aku panik. Ku pegang tangan Ardo untuk mengisyaratkan agar dia duduk kembali. Ardo kembali duduk disampingku.

“gimana tan? Udah dipikirin baik-baik?”, tanya Ardo lagi.

“tante mau ngasih penawaran lain”, ucapku lembut, mencoba untuk bernegosiasi.

“maksud tante gimana?”.

“tante akan kasih kamu sesuai dengan apa yang kamu intip, tidak lebih”.

Ya, aku menawarkan Ardo untuk oral seks. Walaupun aku kecewa dengan sikap Ardo, tapi aku sadar jika yang ngintip bukan Ardo, orang itu juga pasti meminta hal yang sama. Aku sudah pikirkan baik-baik dan aku rasa memberinya oral seks cukup adil untuknya dan untukku.

“hmmm…bener nih tan? Oke, kalau itu udah keputusan tante, yuk berangkat”, Ardo berdiri dan menggenggam tanganku. Aku kaget tapi tak melawan. Kitapun keluar dari tempat itu.

“kita mau kemana do?”, aku bertanya karena Ardo tidak berbicara sedikitpun. Saat ini kita sudah berada di area parkir. Ardo tetap diam dan membawaku ke sebuah mobil.

“tante nggak bawa kendaraan kan?”, Ardo bertanya padaku. Aku menggeleng. Ardopun membukakan pintu mobil dan menyuruhku masuk. Mobilpun mulai meninggalkan tempat itu.

Diperjalanan tidak ada suara. Aku hanyut dengan pikiranku sendiri begitupun Ardo. Sampai akhirnya kita tiba di sebuah rumah mewah. Ku rasa ini rumah Ardo.

“yuk tan, masuk”, Ardo mengajakku masuk ke rumahnya. Kali ini tangannya merangkul pundakku. Sekilas kita terlihat seperti sepasang kekasih. Rumah Ardo sangat besar dan mewah. Aku dibawanya ke kamarnya di lantai dua.

Sesampainya di kamar, Ardo langsung memeluk tubuhku dari belakang. Diciuminya telingaku yang masih tertutup jibab. Sementara itu tangannya perlahan membelai payudaraku dari luar bajuku. Perlakuan Ardo yang lembut mulai membuat birahiku naik. Mataku terpejam menikmati setiap detik remasan lembutnya dipayudaraku.

“liat dalemnya ya tan”, aku diam saja.

Tanpa menunggu jawabanku tangan Ardo mulai mengangkat kaos lengan panjang yang kupakai. Karena aku masih pakai jilbab, maka baju itu agak susah keluar dari kepalaku. Aku berinisiatif untuk membuka jilbab tapi tanganku ditahan oleh Ardo.

“jilbabnya nggak usah, tante lebih cantik kalau pakai jilbab”, ucapnya. Dengan agak susah payah baju itupun lepas dari badanku. Ardo merapikan jilbabku yang agak bergeser ketika melepas baju tadi. Kemudian tangannya beralih ke kaitan bra ku. Dilepasnya dan kemudian dilemparnya bra ku agak jauh.

“waw, masih kenceng aja padahal udah punya anak tiga, putih lagi”, kata-kata mesum Ardo terdengar lebih seperti pujian di telingaku. Aku hanya tersenyum.

Aku mendesis ketika tangan kekar Ardo mulai mengelusi payudaraku lagi. Tangan kirinya tak henti-henti memilin-milin putingku, sedangkan tangan kanannya terus meremas lembut payudara yg lain. Ardo kemudian menggiringku ke ranjangnya dan mendudukanku di pinggir ranjang.

“tante rileks aja yaaa, nikmatin aja, dijamin enak kok”.

Setelah aku berbaring, Ardo membungkuk mengarahkan mulutnya ke payudaraku. Dilumatnya payudaraku dengan lembut dan sesekali digigitnya. Hal ini membuatku menggeliat-geliat dan mendesah pelan. Aku hanya pasrah menerima serangan-serangan Ardo, bahkan tanpa sadar tanganku meremas-remas rambut Ardo yang masih asyik menetek padaku, dan putingku mencuat tegak menantang seolah ingin dijilat lebih lama. Namun tiba-tiba Ardo melepaskan mulutnya dari payudaraku. Dia berdiri dan melepas semua pakaiannya. Aku bergidik ketika melihat penisnya yang sudah mengacung tegak. Besar dan berurat. Sadar aku memperhatikan penisnya, Ardopun tersenyum kearahku.

“gimana tan? Lebih besar punyaku kan?”, Ardo bertanya seolah ingin mempertegas rasa kagumku pada penisnya.

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Ardopun mulai membuka sepatuku dan melucuti celanaku, hingga sekarang hanya celana dalam dan jilbab yang masih menutupi tubuhku. Tangan Ardopun mengarah ke celana dalamku, ingin membuka. Tapi segera ku tahan tangan itu.

“Do, tante nggak mau sampai kebablasan, tante mohon biarin tante pakai celana dalam ya, tante nggak mau punya kamu sampai masuk ke vagina tante”, aku mencoba memohon agar Ardo tidak melucuti celana dalamku. Lagian kesepakatan diawal hanya oral seks, ku rasa aku tidak harus melepas celana dalam untuk melakukan oral seks.

“dan kamu juga harus janji untuk tidak membuka celana dalam tante”, ucapku lagi.

“Iya, aku janji, aku paham, tante pasti takut kebawa nafsu lihat kontolku yang lebih gede dari punya om Hendro ini, terus masukin ke memek tante, heheehe..”, candaan mesum Ardo tak kutanggapi. Ardo berbaring disampingku dan dengan tiba-tiba mulutnya langsung melumat bibirku dengan ganas.

“uummm,,umhhh,,,,”, aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha menhindar agar lidahnya tidak masuk, namun lama kelamaan karena sulit bernafas mulutkupun membuka menerima lidah Ardo yang mulai menyeruak ke rongga mulutku. Ku biarkan lidahnya menari-nari dan sesekali beradu dengan lidahku. Ardo melepas jilbabku dan menciumku kembali sambil meremas lembut rambutku. Rangsangannya makin lama makin membuat birahiku naik. Apalagi setelah itu ciumannya mulai berpindah ke dagu, leher, dan telingaku. Tidak ingin semakin larut dalam permainan Ardo, akupun mendorong tubuh Ardo, aku kemudian bangkit dan menggenggam penis Ardo. Dengan lembut tanganku mulai mengocok penisnya.

“waah, udah nggak sabar aja tan?”, Ardo mengejek ku lagi tapi tak ku hiraukan, aku hanya ingin siksaan birahi ini segera berakhir. Baru beberapa menit Ardopun melepas tanganku. Dia bangkit dan duduk di tepi ranjang. Dengan isyarat Ardo menyuruhku turun dari ranjang dan bersimpuh tepat didepan kemaluannya. Kemudian dia menyodorkan penisnya ke mulutku. Tanpa penolakan akupun menjilati dan mulai mengulum penisnya.

“enghhh, kann,,pakaaihnnmm, mulut lebih enaakkhghhh”, Ardo mengeram menikmati kulumanku.

Tangannya tak tinggal diam, terus saja menggerayangi dan sesekali menarik-narik putingku sehingga birahiku mulai naik lagi. Cairan-cairan cintaku terus saja membasahi vaginaku. Cukup lama aku mengulum dan menjilati penis Ardo, tapi belum ada tanda-tanda kalau Ardo akan keluar. Aku kemudian berhenti dan melepas kulumanku.

“capek tan?”, Ardo bertanya padaku. Aku hanya mengangguk. Ardopun berdiri mengambil beberapa helai tisu yang terletak di meja belajarnya. Tanpa ku sangka Ardo menyeka dan melap dahi dan leherku yang sudah berkeringat banyak. Aku agak tersanjung dengan perlakuannya yang menurutku sangat gentle. Dia mengajakku berdiri dan tiba-tiba melumat kembali bibirku. Kali ini bibir kami saling melumat dan lidah kami saling beradu. Satu tangan Ardo sibuk mengerjai dadaku sementara satu tangan lainnya mengelus-lelus vaginaku dari luar celana dalamku. Vaginaku semakin basah. Cairan-cairan cintaku semakin banyak keluar sehingga celana dalam yang ku pakai ikut-ikutan basah. Tanpa terasa tubuh kita semakin mepet ke dinding. Ardo kemudian mengangkat sedikit tubuhku. Karena takut jatuh, tanganku pun ku kalungkan ke leher Ardo. Posisi kita sekarang terlihat seperti Ardo sedang menggendongku. Aku terlena dengan ciuman nikmat dari Ardo. Dibawah, tanpa kusadari tangan Ardo menggeser sedikit celana dalamku dan mengarahkan penisnya yang besar itu ke vaginaku. Aku terkaget ketika merasakan benda hangat itu menyeruak masuk kedalam vaginaku. Aku bergidik dan berusaha melepaskan namun tangan Ardo terlalu kuat menahan tubuhku. Dengan satu sentakan keras, seluruh penis itupun masuk ke dalam vaginaku.

“Ardo enghh, kenapah..hm..,m kamuuuhh melanggar janjimu….enghhhdhgh?”, aku melenguh panjang menahan nikmatnya disodok penis besar Ardo. Tubuhku terasa semakin lemas digerogoti nafsu yang semakin meninggi. Tak sanggup menopang sendiri tubuhku, akhirnya kakikupun ku lingkarkan ke pinggangnya Ardo. Sekarang aku benar-benar disetubuhi Ardo dengan posisi digendong olehnya. Sedikit rasa perih terasa di vaginaku yang belum terbiasa dengan penis besar Ardo. Tapi lama-kelamaan rasa perih itu hilang berganti dengan nikmat yang luar biasa. Genjotan Ardo mulai terasa sedikit cepat. Makin lama penis itu makin lancar keluar masuk karena vaginaku makin licin oleh lendirku sendiri.

“Engghhh….akhhhh…..emhmmmm”, aku meracau tak jelas menikmati genjotan Ardo.

“kenapa aku menikmati ini? Aku kan sedang diperkosa tetapi kenapa tubuhku ikut menikmati? Tidak! Harusnya tidak begini, tapi..arghh, ini emang nikmat banget…aduh mas, maafin istrimu ini mas”, batinku terus bergejolak dan tanpa sadar ditengah persetubuhan ini mataku menitikkan air. Ardo yang melihatku menangis menyeka air mataku dengan satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain asyik meremas pantatku.

“tante kenapa nangis?”, Dia tersenyum tapi tetap menggenjot tubuhku dengan irama teratur.

“tante udah khianati suami tante, tante udah kotor”

“tante nggak salah kok, aku yang salah udah manfaatin tante”. Tangan Ardo mengusap rambutku dengan lembut, entah kenapa usapannya membuatku nyaman, akupun menyandarkan kepalaku ke bahunya. Aku benar-benar takluk padanya. Sementara itu Ardo semakin bersemangat menggenjotku.

Sedikit demi sedikit Ardo mulai berjalan sambil menggenjotku dalam gendongannya. Ku piker Ardo akan membawaku ke ranjang tetapi dugaanku salah, aku digenjot sambil mengelilingi kamar Ardo yang cukup luas itu. Puas berkeliling kamar, Ardopun membaringkanku di ranjang tanpa melepas penisnya dari vaginaku. Di ranjang genjotannya makin kencang membuatku makin melayang. Hentakan-hentakan pinggulnya menimbulkan suara-suara yang menggema mengisi kamar ini. Tak hanya itu, mulutnya juga menjilati dan menggigit kecil putting susuku.

“enghhh..hmehfnnhgh..Do, tante mau keluaaaaaar”

“tahan tante, kita barengaan…”

Srtt.srt…. Tak bisa ku tahan lagi akhirnya aku mengalami orgasme yang luar biasa. Tubuhku sampai melengkung menikmati sisa-sisa orgasme ku. Dan tak lama setelah itu Ardo mengerang keras. Dia berejakuliasi di dalam vaginaku. Ardopun rubuh sambil memeluk tubuhku. Lama kami saling diam dalam pelukan. Setelah tenagaku mulai pulih akupun mendorong Ardo dan bergeser agak jauh dari Ardo. Aku mulai menangis lagi. Aku sudah berselingkuh, aku sudah mengkhianati mas Hendro, aku sudah mengkhianati anak-anakku. Tiba-tiba bayangan mas Hendro, Dian, Dita, dan Yona silih berganti mengisi pikiranku. Ardo bangun dan duduk disebelahku. Dia memelukku dan membelai rambutku.

“do, tante harap ini pertama dan terakhir kalinya kita melakukan ini, tante nggak mau lagi”

“……..”

“sekarang tante minta hapemu, tante mau hapus video itu”, Ardopun beranjak menuju meja belajarnya dan menyerahkan hapenya. Tanpa kesulitan akupun menghapus video itu. Ah, akhirnya selesai sudah masalah ini. Akupun mulai memunguti pakaianku yang berserakan dan memakainya satu per satu.

“anterin tante pulang do”, aku duduk disebelah Ardo yang sedang merokok.

“tante nggak mau mandi dulu?”

“nggak usah, tante harus pulang sekarang”

“ya udah tante turun duluan, aku mau mandi bentar”, Ardo memberikan kunci mobilnya padaku.

Akupun meninggalkan kamar itu menuju mobilnya. Aku masuk ke dalam mobil dan menunggu sambil memainkan hapeku. Tak lama Ardopun tampak berjalan menuju mobil. Wajahnya sudah lebih segar setelah mandi. Ditangannya terlihat sebuah handycam, entah untuk apa dia membawa alat itu. Akhirnya kitapun berangkat meninggalkan rumah Ardo.
Ditengah jalan lagi-lagi kita hanya diam, Ardo sesekali melirikku sambil tersenyum. Ketika akan memasuki gerbang komplek, Ardopun menghentikan mobilnya. Belum sempat aku bertanya tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku dan mengarahkannya ke penisnya.

“kamu mau apa lagi sih!”, aku menarik tanganku, kaget dengan apa yang dilakukan Ardo.

“aku mau tante servis aku sebelum kita sampai ke rumah”, ucap Ardo santai.

“aku tidak mau, urusan kita sudah selesai”

“hhmm, ya udah..aku minta ke pacarku aja”

“Tidak ! jangan libatkan Dian!”, aku panik mendengar anakku disebut-sebut.

“apalagi kalau Dian melihat video ini, pasti Dian bakal nurut disuruh apa aja”, Ardo menyodorkan handycamnya padaku. DEG! Aku terkejut, ternyata video itu adalah video persetubuhanku dengan Ardo tadi. Tiba-tiba badanku melemas.

“mau kamu sebenarnya apa sih Do?”, kali ini suaraku terdengar pelan. Air mata mulai mengalir lagi dari mataku.

“aku mau tante turutin semua perintah ku, apapun itu, tidak boleh ada penolakan”

“kamu memperbudak aku?”

“terserah tante mau ngartiinnya gimana, yang jelas aku mau tante tunduk padaku, gimana?”

Aku bingung, aku tidak punya pilihan lain. Jika aku menolak keluargaku akan hancur. Tanpa pikir panjang lagi akupun mengangguk. Ardo tersenyum mendengar jawabanku. Ardo membuka resletingnya dan mengeluarkan penisnya.

“ini tugas pertama tante”, ucapnya sambil menunjuk penisnya yang sudah setengah tegang. Tanpa bisa menolak lagi tangankupun mulai mengocok penisnya, tapi Ardo melepas tangaku.

“pakai mulut dong sayang”, Ardo menarik kepalaku kearah penisnya. Aku menurut saja, aku mulai mengulum, menjilat, dan menyedot penisnya. Ada sedikit rasa takut dan deg-degan ketika ada kendaraan lain melewati mobil kami yang terparkir di gerbang komplek.

“eengghhh,,arghhh,,”, setelah lebih kurang 15 menit Ardo mengerang menandakan orgasmenya. Kepalaku ditahannya sehingga mau tak mau aku terpaksa menelan spermanya. Selesai ritual itu, mobilpun melaju menuju rumahku.

“Do, kamu benar-benar mencintai Dian?”, aku bertanya sesampainya kami di depan rumah.

“aku sangat mencintai Dian, tan”

“kamu sudah pernah menidurinya?”

“belum tan, asal tante tahu, tante adalah orang pertama yang aku setubuhi”

Entah kenapa, jawaban Ardo membuatku sedikit bangga. Agak tidak menyangka bahwa tubuh yg sudah 40 tahun ini mampu menaklukkan lelaki tampan, muda, dan perkasa seperti Ardo.

“tante mohon kamu jangan nodai Dian ya, jaga dia baik-baik”, aku sedikit berkaca-kaca ketika mengatakan itu.

“kalau kamu memang butuh pelampiasan nafsumu, kamu boleh pakai tante, asal kamu janji untuk menjaga Dian”, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Ya, aku harus berkorban untuk anakku. Aku tidak akan membiarkan Dian terjerumus sepertiku.

“tante bisa pegang janjiku, aku akan jaga Dian dengan baik”

Wajah Ardo semakin dekat dengan wajahku dan entah siapa yang memulai bibir kami akhirnya menyatu dan saling melumat. Cukup lama sampai akhirnya aku sadar bahwa saat ini kami di depan rumahku. Akupun melepas lumatan Ardo.

“aku akan pegang janjiku seperti aku berjanji tadi untuk tidak membuka celana dalam tante”, ucap Ardo sebelum aku turun dari mobilnya.

=====================================================================

Beberapa hari setelah Ardo memperkosa ku, atau lebih tepatnya menikmati tubuhku, aku mulai merasa ada yang beda dari diriku. Aku seperti menginginkan persetubuhan itu terulang lagi. Darah mudaku seperti bergejolak kembali. Beberapa hari ini Ardo memang tidak menghubungiku. Alhasil, dildo kiriman suamiku menjadi alat pelampiasanku. Seperti pagi ini, entah kenapa ketika mandi tadi aku menjadi lebih intens mengelus-elus tubuhku sendiri terutama bagian dadaku, bagian kesukaan Ardo. Bahkan ketika di bathup tadi, aku orgasme menggunakan dildo sambil membayangkan dildo itu adalah penis Ardo.

Sesudah mandi aku mengambil daster panjang yang biasa kupakai kalau tidak keluar rumah. Memang buatku daster adalah pakaian yang nyaman di dalam rumah tentunya dengan satu set pakaian dalam dengan warna senada. Tapi entah kenapa, pagi ini aku merasa kurang nyaman memakai pakaian dalam. Jadilah pagi ini aku hanya menggunakan daster panjang tanpa apa-apa lagi didalamnya.

TING TONG! Baru saja aku menghempaskan tubuhku di depan TV, terdengar suara bel. Siapa yang datang pagi-pagi begini ya? Ini baru jam 9, tidak mungkin Dita ataupun Yona, mereka pasti di sekolah jam segini. Dian? Hmm gak mungkin juga,dia baru saja berangkat ketika aku baru selesai mandi tadi. Penasaran akupun berjalan kedepan. DEG ! jantungku terasa berdetak lebih cepat melihat Ardo berdiri di depan pintu rumah. Akupun membuka pintu dan melongokan kepalaku.

“mau apa kamu?!”, aku membentaknya.

“aku kangen tante, tante nggak kangen aku?”, Ardo tersenyum, senyum mesum. Entah kenapa sejak hari itu senyum Ardo padaku tidak lagi senyum tulus seperti yang dulu diperlihatkannya tetapi lebih terlihat sepeerti senyum mesum. Senyum yang penuh nafsu.

“kamu pulang aja deh, di rumah lagi nggak ada orang”, aku mengusirnya secara halus. Meskipun tubuhku menginginkannya untuk menyetubuhi ku lagi, tetapi aku tidak ingin terlihat seperti wanita jalang yang mengundang lelaki lain ke rumahnya ketika dirumahnya tidak ada siapa-siapa.

“tante lupa perjanjian kita? Atau aku harus sebarin video cinta kita dulu, biar tante paham?!”, suaranya terdengar santai tapi tegas.

Aku mengalah, aku tidak mungkin melawan Ardo. Akhirnya Ardo ku biarkan masuk. Baru saja pintu ku tutup, Ardo langsung memelukku. Tangannya langsung bergerilya di dadaku. Dan sebelahnya lagi merambat ke vaginaku.

“pagi-pagi nggak pakai daleman, udah nafsu dari tadi ya tante?”, Ardo melecehkanku lagi, dan seperti kemaren, aku tidak menjawab. Aku membiarkan dia meraba-raba tubuhku, mencoba menikmati perlakuan lembutnya.

Ardo terus meremas lembut dadaku, sementara itu lidahnya tak tinggal diam, terus menjilat leher dan sesekali cuping telingaku.

“enghhh..do…udaaah…..nantiii ada yg liathnfgfjj….ehmgnhmkk…”

Ardo tidak berhenti, tetapi semakin semangat, remasannya yg lembut terkadang berubah jd agak keras. Tangannya membimbing tanganku masuk kedalam celananya untuk menggenggam penisnya. Dan sesekali tanganku digoyang-goyangkannya seolah-olah menyuruhku untuk mengocok penisnya.

Sedang asyik-asyiknya kita memacu birahi, terdengar diluar suara sepeda motor berhenti. Ardo menghentikan aksinya, kami saling berpandangan kemudian tanpa dikomando sama-sama melihat ke jendela. Ternyata tukang sayur yang biasa jualan di komplek ini sudah berada di dekat tiang listrik yang berada di depan rumahku. Kami para ibu-ibu komplek ini memanggilnya pak kumis, karena kumisnya yang tebal mirip kumis mas Adam, suaminya Inul. Tak berapa lama, ibu-ibu mulai berkumpul mengerubungi pak kumis.

“tante nggak belanja?”

“engga do, tante udah masak, kamu mau makan?”

“engga, aku udah makan tadi, tapi aku mau yg lain”

“yang lain? Maksud kamu?”

“aku mau tante godain tu bapak-bapak yg jualan”

“pak kumis? Engga ah, mau ditaro dimana muka tante do? Tante malu aaah, ngga mau”

“engga ada penolakan, tante tau konsekuensinya kan kalo nolak?!”
Argh! Lagi-lagi perlawananku mentok sampai disitu. Aku tidak mungkin menolak keinginan Ardo. Akhirnya aku mengangguk lemah.

“ya udah, tante ambil jilbab dulu”, akupun berlalu kekamarku. Sesaat sebelum keluar kamar, aku mematut diriku di cermin. “apakah tubuh ini bisa menggoda lelaki tua seperti pak kumis ya?”, entah kenapa pertanyaan bodoh itu melintas dipikiranku. Akhirnya akupun berlalu keluar kamar.

“cepetan tan, itu pak kumisnya udah mau pergi”, Ardo mendorongku ketika melihatku keluar dari kamar.

“pak, tunggu”, aku berteriak memanggil pak kumis yang sudah menyalakan mesin motornya. Akhirnya motor itupun berjalan kerumahku dan berhenti tepat di depan pagarku.

Akupun mulai memilih-milih tomat, bawang,toge, dan terong. Beberapa kali tak sengaja ku lihat pak kumis menatap tajam ke buah dadaku. Sepertinya dia sadar kalau pagi itu aku tidak memakai BH. Bahkan beberapa kali pak kumis meneguk ludahnya memandangiku yang masih sibuk memilih belanjaan. Akhirnya akupun memutuskan untuk membeli daging ayam dan pelengkapan untuk membuat ayam goring sambel ijo. Masakan favorit anak-anakku. Akupun meminta pak kumis untuk sekalian memotong-motong ayamnya. Aku memperhatikan lengan kekar pak kumis yang bergoyang-goyang ketika memotong ayam. Tiba-tiba aku membayangkan bagaimana rasanya dipeluk tangan kekar pak kumis.

“semuanya 60ribu bu”, suara pak Kumis membuyarkan lamunanku. Pak kumis menyodorkan dua kantong belanjaanku yang berisi ayam, cabe ijo, sayuran dan terong. Aku mengambil dua kantong itu.

“aku ambil uang ke dalam dulu ya pak”, aku berjalan ke dalam rumah. Didalam Ardo langsung mengambil kantong yang aku bawa dan membawa ke dapur.

“belum dibayar ya tan?”, Ardo bertanya karena melihatku mengambil dompet dikamar.

“iya do, tante keluar lagi ya, kasihan pak kumis nunggu lama”

“tunggu tan”, Ardo menahan tanganku.

“tante ngga sadar tadi pak kumis lihatin tante penuh nafsu gitu? Kasihan dong kalo dia pulang sambil konak gitu..hahaha….”

“maksud kamu ?”

“aku punya ide lain buat membayarnya”, aku mengernyitkan dahiku tanda tidak mengerti. Ardo berjalan keluar dan memanggil pak kumis.

“pak sini deh”

“iya, ada apa mas?”, pak kumispun berjalan ke dalam rumah mengikuti panggilan Ardo.

“tadi tante saya ini belanjanya berapa ya pak?”, Ardo bertanya sambil menyuruh pak kumis duduk di sofa yang ada didekatnya, sedangkan aku masih berdiri disamping Ardo.

“60ribu mas”

“jadi gini pak, tante saya ini lupa ngambil uang di ATM, jadi sekarang ngga pegang uang cash, kalo dibayar pake cara lain bapak mau?”

“cara lain? Maksud mas gimana?”

“saya tadi lihat mas merhatiin dada tante saya terus pas belanja,..”, Ardo memperlambat tempo suaranya. Ku lihat muka pak Kumis memerah mendengar kata-kata Ardo.

“menurut bapak, tante saya ini cantik ngga? Seksi ngga?”

“waaah, menurut bapak bu Hendro ini cantik buanget mas! Bahkan sepertinya ibu ini yang paling cantik di komplek sini”, pak Kumis menjawab penuh semangat sambil sesekali melirikku. Aku hanya menunduk dan menggenggam tangan Ardo.

“hmm,okee..berarti bapak pasti suka sama penawaran ini”, Ardo mengajakku duduk di sofa yang berada di depan pak kumis.

“jadi saya ada tawaran,gimana kalau untuk membayar belanjaan tadi bapak saya perbolehkan mencium tante saya ini selama dua menit, gimana?”.

Aku kaget mendengar kata-kata Ardo begitupun pak Kumis. Dia melongo tapi hanya sebentar, kemudian tersenyum mesum kearahku. Badanku langsung lemas, tak menyangka Ardo akan mempermalukanku seperti ini.

“sebenernya bapak ngga mau kayak gini, tapi berhubung cewenya bu Hendro ya boleh deh mas”, aku makin merasa tertampar dengan jawaban pak Kumis. Tak menyangka kalau dia akan menerima tawaran Ardo.

“oke, silahkan bapak pindah kesini”, Ardo tersenyum kemudian beranjak meninggalkanku, sempat ku tahan tangan Ardo tapi dia melepaskan sambil melotot kearahku. Pak kumispun pindah dan sekarang duduk disebelahku.

“do, please..jangan gini…..”, aku mencoba protes.

“nikmati aja sensasinya tan, dijamin enak”, Ardo berbisik ke telingaku. Kemudian agak menjauh dan duduk dihadapan aku dan pak Kumis.

Setelah dipersilahkan Ardo, pak Kumis langsung menyosor bibirku. Aku memejamkan mataku, tidak tahan memandangi wajah nafsu pak Kumis. Bibirku kututup, tak ingin membiarkan lidahnya bergerilya di dalam mulutku. Awalnya ciuman pak kumis terasa lembut, bibirnya yang basah dan bau rokok itu melumat dan membelai lembut bibirku yang tertutup rapat. Aku agak kaget ketika tiba-tiba tangan pak kumis meremas dadaku. Tak bisa kutahan akhirnya aku melenguh, hal itu tidak disia-siakan pak Kumis, bibirku yang sedikit membuka akhirnya memberi akses lidahnya untuk bergerilya di dalam mulutku. Serangan pak kumis membuatku pasrah tak berdaya. Nafsuku kembali naik keubun-ubun. Aku mulai melenguh lagi dan mulai membalas ciuman pak Kumis. Ditengah kenikmatan itu, bayangan suami dan anak-anakku kembali berputar dipikiranku. Aku semakin pasrah, dan semakin menikmati. Tanpa sengaja mataku melihat kearah Ardo, dia ternyata merekam perbuatan kami dengan hapenya! Aku kaget tapi tak bisa berkata apa-apa. Tanpa sengaja tanganku menyentuh tonjolan besar di bawah perut pak kumis. Tonjolan besar itu menandakan betapa bernafsunya dia padaku.

Ardo menepuk bahu pak Kumis hingga ciuman pak Kumis terlepas dari bibirku.

“udah dua menit pak, silahkan pindah lagi duduknya”

“duh, lagi enak, si mas gangguin aja”, ku lihat muka pak kumis agak gusar karena merasa terganggu dengan Ardo.

“ini sudah dua menit, dan bapak melanggar perjanjian karena sudah mencium sambil meremas dadanya, remasan itu aku anggap bonus buat bapak!”, Ardo memasang muka garang sehingga mau tak mau pak kumis pindah ke sofa yang lain. Ardo berpindah kesebelahku.

“gimana pak rasanya bibir tante saya?”, sikap Ardo kembali lunak ke pak Kumis.

“gilaa mas! Enak banget, lebih enak dari istriku, apalagi dadanya, masih seger ajaa, ternyata bener dugaanku tadi, bu Hendro ngga pakai BH..hahaha….”, pak Kumis tertawa lepas.

“oke..siippp…saya sudah rekam perbuatan tadi, jadi saya harap bapak jangan coba-coba cerita ke orang lain tentang yang barusan, dan Ingat!
Jangan coba-coba ganggu tante saya kalau bapak tidak ingin berurusan dengan polisi!”, Ardo meninggikan lagi suaranya seolah-olah ingin menegaskan kuasanya pada pak Kumis.

“siap mas, saya nggak akan cerita, tapi kalau bu Hendro butuh pelampiasan, saya siap kok”, pak Kumis tersenyum mesum kearahku. Aku hanya bisa melengos, mengarahkan pandanganku ke arah lain.

“tante saya ini bukan pelacur ya, tadi kebetulan aja dia lagi baik”, ucapan Ardo membuatku tersenyum dalam hati. Senang juga dibelain sama Ardo.

“ya udah, silahkan pergi pak”, Ardo berdiri dan berjalan keluar bersama pak kumis sedangkan aku hanya menunggu didekat jendela. Sekilas sebelum pak Kumis pergi terlihat mereka berdua tertawa-tawa. Sambil mengucapkan terima kasih pada Ardo, pak Kumispun berlalu dari rumahku.

“gimana tan, sensasinya luar biasa kan?”

“kamu gila yaa?! Tante nggak mau disuruh gitu2 lagi!”

“nikmatin aja, nanti juga tante bakal suka..hahaha….”

Ardo mengajakku berpindah ke kamar. Tanpa bisa ku cegah, dia membuka lemari baju dan memeriksa semua isinya. Tiba-tiba dia mengambil dua buah dasi suamiku.

“kamu mau ngapain lagi sih do??”

“udah tante ikutin aja, pasti enak kok..hehhe”, Ardo membawaku ke ranjang kemudian mengikat tanganku ke belakang seperti para penjahat. Kemudian satu dasi lagi dipakai untuk menutup mataku.

“tunggu bentar ya tan, aku mau ambil sesuatu”, Ardo berjalan ke luar kamar entah apa yang mau diambilnya. Aku bertanya-tanya, apa lagi yang mau dilakukan anak ini? Mataku yang tertutup membuatku tidak tahu keadaan sekitar dan ini semakin membuatku penasaran. Tiba-tiba sepasang tangan Ardo mendorongku sehingga aku sekarang dalam keadaan menungging tetapi kepalaku berada di kasur. Tangan itu mengangkat kepalaku kemudian menyorongkan penisnya ke mulutku. Dan seperti sudah paham dengan yang dia mau, akupun menjilati penis itu.

“gimana sensasinya tan? Lebih enakkan jilatin kontol dengan mata tertutup?”, Ardo bertanya, aku tidak menjawab dan tetap menjilati penis Ardo. Tapi tiba-tiba sebuah benda mirip penis mencoba membelah vaginaku.

“do, itu apa?”, aku kaget dan menghentikan jilatanku. Ardopun membuka tutup mataku. Ternyata sebuah terong besar yang ku beli tadi sudah tertancap di vaginaku. Ardo terus menggoyang-goyang terong itu sehingga akupun mulai melenguh-lenguh, merintih menikmati tusukan-tusukan terong itu. Ardo berhenti sebentar untuk membaringkanku di ranjang. Dia kemudian melanjutkan lagi tusukan-tusukan di vaginaku.

Aku hanya bisa merintih sambil memejamkan mataku. Entah kenapa yang ada dalam pikiranku saat itu adalah aku membayangkan terong itu adalah penis pak Kumis.

“ahhgg,,,ehmnhh….nghmmn,…..doooo, tante mau keluaaarghf..anghmmsmm….”, akhirnya aku orgasme dengan terong itu. Pinggulku sampai terangkat saking nikmatnya. Ardo hanya tersenyum melihatku orgasme. Masih dalam suasana orgasme,tiba-tiba Ardo mencabut terong itu dan langsung mengganti dengan penis besarnya. Aku kaget, tapi terlalu lemah untuk menolak. Ardo mulai menggenjotku dengan cepat, vaginaku terasa sakit, ngilu karena goyangan cepat Ardo.

“do,,engghh..udah…sakitttttt”, aku melenguh dan mencoba meminta Ardo menghentikan aksinya. Tapi bukannya berhenti, Ardo semakin semangat,goyangannya semakin dahsyat. Dan rasa ngilu itu berubah jadi rasa nikmat yang sangat dahsyat.

“enghmm,,,doo,,,tante mau keluar lagi…”, aku tak kuat menahan lagi dan akupun orgasme untuk kedu kalinya.

“croot..crooott..croot….”, tak lama setelah itu Ardopun orgasme di dalam vaginaku. Ardo ambruk diatas tubuhku.
Kami saling diam, yang terdengar hanya hembusan nafas kami yang tak beraturan. Aku membuka mataku dan kulihat Ardo tersenyum sambil membelai pipiku.

“I Love You Hany”, Ardo membisikkan kata-kata itu sambil menjilati daun telingaku.

“do, lepasin ikatan tangan tante dong”, tanpa banyak bicara Ardopun melepas ikatan tanganku.

“gimana tante? Luar biasa kan?”, Ardo senyum-senyum setelah melepas ikatanku.

“kamu gila!”, Cuma itu yang bisa aku ucapkan. Gila memang, ini pengalaman baru dalam kehidupan seks ku. Sebelumnya aku belum pernah diginiin, dan ini nikmat sekali! Emang dasar pemuda mesum. Aku senyum-senyum sendiri.

Aku mencoba berdiri tapi kakiku masih agak lemas,sehingga akupun duduk disebelah Ardo yang masih berbaring. Ku lihat vaginaku memerah, agak sembab sepertinya.

“do, lihat nih, gara-gara kamu punya tante jadi merah gini, perih lagi”, aku merajuk pada Ardo. Entah kenapa aku mulai suka bermanja-manja padanya. Ardo duduk dan mendekat padaku. Kemudian dia memperhatikan vaginaku. Ardo mendekapku lembut.

“bentar lagi juga sembuh kok Hany sayang, apalagi kalau disodok terus sama kontolku”, ucapan Ardo membuatku agak kaget, tapi aku bisa mengendalikan kekagetankku sehingga tidak disadari oleh Ardo. Aku kaget karena dia tidak lagi memanggilku tante, tetapi memanggilku dengan namaku. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Hmm…cukup lama juga permainan kami tadi. Sebentar lagi Yona pasti pulang. Aku harus bersiap-siap sebelum Yona pulang.

Akupun melepas dekapan Ardo dan berjalan ke kamar mandi, sebelumnya ku ambil handuk suamiku dan ku berikan pada Ardo. Ketika aku akan masuk kekamar mandi, ku dengar Ardo berucap
“pintunya jangan dikunci ya sayang”, aku hanya tersenyum padanya kemudian masuk ke kamar mandi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Seks: Bocah Nyusu Plus Ngentot Efni

Mama Gitu Dehh 1 - 5

Tukang Kebun yang Menggarap Memekku